Apakah Kamu Membuat Murid atau Mengubah Agama Seseorang?

Written by :   Zac Poonen Categories :   The Church Disciples
Article Body: 

Apa Sajakah yang Termasuk di Dalam Amanat Agung?

Merupakan sebuah kesalahan umum di kalangan orang percaya untuk berkutat pada satu ayat Alkitab tentang sebuah topik dan mengabaikan ayat lain yang membicarakan topik serupa.

Setan menggoda Tuhan kita dengan kata-kata "Ada tertulis…" (Mat 4:6). Tetapi Tuhan menolak godaan itu dengan berkata, "Ada pula tertulis…" (Mat 4:7). Keseluruhan tujuan Tuhan hanya dapat dipahami ketika Firman Tuhan disandingkan dengan Firman Tuhan - ketika "Ada tertulis…" dibaca bersamaan dengan "Ada pula tertulis…".

Pertimbangkanlah perihal 'Amanat Agung'.

Yesus memberikan perintah kepada murid-Nya dengan mengatakan " Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk" (Mrk 16:15). Dia juga memberikan perintah dengan mengatakan, "Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku" (Mat 28:19). Dua perintah ini merupakan dua bagian dari satu Amanat Agung. Kita bisa mengetahui dan memenuhi kehendak Allah yang utuh hanya dengan menyelidiki dan menaati dua unsur amanat agung itu.

Penginjilan

Langkah pertama tentu saja pergi dan memberitakan injil kepada semua orang (Mark 16:15). Perintah ini tidak hanya diberikan kepada satu orang percaya saja, tetapi kepada seluruh tubuh Kristus. Adalah mustahil bagi satu orang atau satu gereja lokal saja untuk memberitakan Injil kepada semua orang di seluruh dunia. Setiap kita, paling maksimal hanya bisa memiliki bagian yang kecil dalam tugas ini.

Tapi kita harus tetap memenuhi bagian itu, seberapa pun kecilnya. Di sinilah Kisah Rasul 1:8 muncul ke permukaan. Setiap orang percaya harus menerima Roh Kudus turun ke atasnya dan memenuhinya dengan kuasa, jika ia ingin menjadi saksi yang efektif. Perhatikan baik-baik bahwa tidak semua orang percaya dipanggil menjadi penginjil (karena Kristus hanya memanggil sebagian untuk menjadi penginjil bagi gereja-Nya - seperti yang dikatakan dengan jelas dalam Efesus 4:11), tapi semua orang dipanggil untuk menjadi saksi-Nya.

Seorang penginjil memiliki cakupan kerja yang lebih luas daripada seorang saksi. Seorang saksi harus menyatakan Kristus di sekitarnya - kepada sanak saudara, tetangga, teman sekantor atau orang lain yang ditemuinya setiap hari, kepada orang yang dijumpainya dalam perjalanan, dll. Di sinilah kita semua bisa menjadi saksi, apa pun pekerjaan duniawi kita.

Tapi Kristus juga telah memberikan penginjil bagi gereja-Nya, dan ia memiliki pelayanan yang lebih luas untuk menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang. Tapi bagaimanapun juga, tugas seorang penginjil bukan hanya 'memenangkan jiwa-jiwa' atau 'membawa orang kepada Kristus' (seperti yang biasa kita dengar), tapi 'membangun tubuh Kristus' (seperti yang dikatakan dengan jelas dalam Ef 4:11, 12). Inilah letak kegagalan terbesar mayoritas penginjilan hari ini. Kebanyakan penginjilan hari-hari ini tidak dikaitkan dengan pembangunan tubuh Kristus, tapi hanya untuk menyelamatkan jiwa secara individu. Jiwa-jiwa ini biasanya akan dikirim kembali ke 'gereja-gereja' mereka yang mati dan kemudian akan tersesat lagi, atau paling banter, menjadi suam-suam kuku dan layak dimuntahkan dari mulut Tuhan suatu hari nanti (Why 3:16). Dalam dua skenario itu, mereka tidak dibangun ke dalam tubuh Kristus. Dengan begitu, hanya rencana-rencana Setan saja yang terpenuhi - karena orang itu kemudian menjadi dua kali lipat orang neraka yang lebih jahat (Mat 23:15) - pertama, karena dia memang tersesat sejak awal, dan kedua, dia tertipu oleh seorang penginjil sehingga mengira bahwa ia telah diselamatkan ketika dia masih tersesat! Satu-satunya hal yang dibangun dari penginjilan semacam itu adalah kerajaan pribadi si penginjil. Dan satu-satunya motivasi bagi penginjilan semacam itu biasanya adalah keinginan sang penginjil untuk mencari uang atau pujian manusia, atau dua-duanya!!

Yesus menyebut penginjil sebagai 'penjala manusia'. Tapi penginjilan yang bekerjasama dengan pemimpin atau kelompok-kelompok 'Kristen' yang belum bertobat atau penginjilan yang disponsori pimpinan politik yang sedang mencari dukungan suara adalah sama seperti menjala ikan dengan jala yang penuh lobang. Kita tidak bisa membayangkan Yesus mengundang Annas, Kayafas, Herodes, atau Pilatus untuk duduk bersama-Nya di atas sebuah mimbar untuk meresmikan acara penginjilan-Nya! Tapi banyak dari penginjil-penginjil masa kini yang bukan hanya melakukan itu, tapi juga menyanjung pemimpin-pemimpin yang belum bertobat itu dari atas mimbar mereka.

Lebih lanjut, ikan-ikan yang tertangkap 'jala' semacam itu akan dibiarkan kembali ke dalam laut ('gereja-gereja' yang mati), untuk ditangkap lagi pada penginjilan berikutnya, hanya untuk dibiarkan kembali ke laut sekali lagi!! Proses ini diulangi lagi dan lagi oleh banyak penginjil yang melakukan acara-acara interdenominasional hari-hari ini, dengan setiap penginjil menghitung tangan yang terangkat, kartu keputusan, dll. Penginjilan semacam itu membawa sukacita, bukan kepada malaikat surgawi tapi kepada rombongan Setan! Karena bagaimana bisa malaikat-malaikat bersukacita atas mereka yang menjadi dua kali lipat orang neraka? Statistik dalam pertemuan-pertemuan penginjilan hari-hari ini benar-benar penuh dengan tipuan.

Meskipun tanda-tanda mukjizat menyertai pemberitaan bahwa Yesus mengampuni dosa dan menyembuhkan penyakit, pertanyaan yang masih tersisa adalah berapa banyak yang telah menjadi murid dan dibangun ke dalam tubuh Kristus lewat penginjilan semacam itu?

Rasul-rasul Tuhan kita tidak pernah terlibat dalam penginjilan semacam ini. Mereka menempatkan jiwa-jiwa hasil penginjilan mereka ke dalam gereja lokal untuk dijadikan murid dan dibangun secara spiritual.

Lima pelayanan yang disebutkan dalam Ef 4:11 (rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar) diurut berdasarkan prioritasnya dalam 1 Korintus 12:28. Di sana kita diberitahu bahwa, "Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat (maksudnya penginjil, karena semua penginjil dalam masa Perjanjian Baru memiliki karunia untuk menyembuhkan), lalu melayani (makna harafiahnya, 'mereka yang menyetir kapal', maksudnya gembala)."

Ayat ini menjelaskan bahwa di mata Tuhan, pelayanan rasul, nabi dan guru memiliki peranan yang lebih penting untuk membangun tubuh Kristus daripada penginjil. Penginjil akan menemukan tempat yang sesuai dalam pelayanannya hanya jika ia mengambil posisi yang seharusnya, yaitu dalam ketundukan kepada rasul, nabi dan guru. Hanya dengan cara itulah pelayanannya bisa berperan dalam membangun tubuh Kristus. Di sinilah penginjilan abad 20 telah lari dari firman Tuhan.

Membuat Murid

Tujuan penginjilan hanya bisa dipahami ketika dilihat lewat pengertian yang diberikan oleh unsur Amanat Agung kedua - jadikanlah semua bangsa murid-Ku (Mat.28:19). Dengan cara inilah rencana Tuhan bagi orang-orang yang belum bertobat bisa dipenuhi.

Orang yang menerima Yesus harus dijadikan murid.

Sayangnya, bahkan mereka yang katanya menerima Yesus hari-hari ini seringkali tidak benar-benar menerima-Nya, karena dalam banyak kasus, mereka belum bertobat dengan benar. Di dalam acara-acara penginjilan mungkin mereka diberitahu untuk percaya saja pada Yesus, tanpa menyinggung soal pertobatan atau pemberian ganti rugi. Mereka yang menerima Yesus dengan cara seperti itu datang kepada-Nya untuk diberkati dan disembuhkan - dan bukan untuk menyerahkan dosa-dosa mereka. Karena itu, kebanyakan orang yang menerima Yesus hari-hari ini dapat diumpamakan seperti bayi prematur yang ditarik paksa oleh bidan yang tak sabaran ('penginjil') karena nafsu mereka untuk statistik. Karena bayi-bayi prematur itu belum siap untuk dilahirkan, biasanya mereka akan mati dengan sangat cepat, atau hidup dengan keterbelakangan seumur hidup mereka dan mendatangkan banyak masalah bagi gembalanya. Orang-orang seperti itu tidak dapat disebut sebagai orang yang terjatuh, karena mereka bahkan belum pernah melangkah satu kali pun. Yesus berkata bahwa malaikat di surga bersukacita atas orang berdosa yang bertobat, dan bukan atas orang berdosa yang hanya percaya saja, tapi tidak bertobat (Luk.15:7, 10).

Yesus mengatakan bahwa keselamatan telah datang ke rumah Zakeus, hanya ketika Zakeus berjanji untuk memberikan ganti rugi atas semua penipuan yang dilakukannya di masa lalu - bukan sebelum dia melakukannya (Luk.19:9). Sayangnya, penginjil hari-hari ini menyatakan bahwa "keselamatan telah datang", bahkan tanpa menyebutkan pemberian ganti rugi!

Bahkan ketika seseorang sudah bertobat dengan sungguh-sungguh dan benar-benar menerima Yesus, dia masih harus dipimpin ke dalam pemuridan, supaya ia bisa memenuhi kehendak Tuhan di hidupnya. Penginjilan yang tidak diarahkan ke pemuridan merupakan pekerjaan yang tidak sempurna.

Seringkali, hasrat seorang penginjil untuk membangun kerajaannya sendirilah yang mencegahnya untuk bekerjasama dengan mereka yang bisa memuridkan jiwa-jiwa hasil pelayanannya. Kita tidak perlu menghakimi penginjil semacam itu, karena Tuhan memerintahkan kita untuk jangan menghakimi. Tetapi penginjil semacam itu pasti harus memberikan pertanggungjawaban pada Tuhan di hari penghakiman nanti, karena telah menghalangi jiwa-jiwa itu untuk menjadi murid.

Langkah pertama untuk memimpin seseorang kepada pertobatan dan iman harus diikuti dengan baptisan air - seperti yang sudah dikatakan Yesus dengan jelas di Mrk.16:16, dan seperti yang dikhotbahkan Petrus pada hari Pentakosta (KPR.2:38). Mat.28:19 juga menyebutkan pentingnya baptisan air. Jadi, jelas bahwa ini adalah langkah berikutnya bagi mereka yang sudah lahir baru.

Sesudah itu, dia harus mengikuti Yesus dalam kehidupannya sehari-hari sebagai murid-Nya.

Syarat Menjadi Murid

Luk.14:25-35 menyatakan syarat-syarat untuk menjadi murid dengan sangat jelas.

Di situ Yesus berbicara tentang seseorang yang meletakkan fondasi sebuah menara, tapi tidak dapat menyelesaikannya, karena ia tidak sanggup membayar biaya konstruksinya (ayat 28-30). Ini menunjukkan bahwa untuk menjadi murid, kita harus membayar sebuah harga. Yesus memerintahkan kita untuk duduk terlebih dahulu dan menghitung harga tersebut sebelum mulai membangun.

Tuhan tidak mau kita menunggu bertahun-tahun setelah dosa kita diampuni, sebelum kita paham akan harga pemuridan yang sebenarnya. Yesus memberitahukan harga untuk menjadi murid segera setelah mereka datang kepada-Nya. Dia juga mengatakan bahwa orang percaya yang tidak bersedia menjadi murid tidak berguna bagi Tuhan, sama seperti garam yang sudah kehilangan rasa asinnya (ayat 35).

Untuk menjadi murid, seseorang yang sudah bertobat pertama-tama harus memutus keterikatan emosi dengan keluarga yang menghalanginya untuk mengikuti Tuhan (ayat 26). Kedua, dia harus bersedia untuk menyangkal diri dan mematikan ke-aku-annya setiap hari (ayat 27). Ketiga, dia harus menyerahkan kesukaannya pada hal-hal material (ayat 33). Ini adalah tiga syarat minimum untuk siapa pun yang ingin menjadi murid.

Syarat pertama untuk menjadi murid ialah kita harus memutus keterikatan emosi yang berlebihan dengan keluarga kita.

Kata Yesus "Jikalau seseorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku" (ayat 26).

Itu adalah kata-kata yang keras. Apa artinya 'membenci'? Membenci sama artinya dengan membunuh (1Yoh.3:15). Yang diperintahkan untuk kita bunuh di sini adalah rasa sayang manusiawi yang kita miliki untuk keluarga kita.

Apakah itu berarti bahwa kita tidak menyayangi mereka? Tidak. Artinya tentu saja bukan itu. Ketika kita menyerahkan rasa sayang manusiawi kita bagi mereka, Tuhan akan menggantikannya dengan kasih Ilahi. Rasa sayang kita kepada mereka kemudian akan menjadi murni - dengan arti bahwa Tuhan akan selalu jadi yang pertama dalam rasa sayang itu, dan bukan keluarga kita.

Banyak yang tidak menaati Tuhan karena mereka takut menyinggung ayahnya, ibunya, istrinya, dll. Tuhan menuntut tempat yang pertama dalam hidup kita. Dan jika kita tidak memberikan-Nya tempat itu, kita tidak bisa menjadi murid-Nya. Yesus harus jadi Tuhan yang mengatasi segalanya di dalam hidup kita, atau Dia tidak menjadi Tuhan sama sekali.

Lihatlah contoh yang diberikan Yesus ketika Ia di bumi. Meskipun Ia mengasihi ibu-Nya yang sudah janda, tapi Dia tidak pernah membiarkan Maria memengaruhi-Nya dari mematuhi kehendak Bapa-Nya, bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun. Kita bisa melihat contohnya pada pernikahan di kota Kana ketika Yesus menolak untuk bertindak berdasarkan dorongan Maria (Yoh.2:4).

Yesus juga mengajarkan kita untuk 'membenci' saudara kita. Ketika Petrus mencoba mencegah-Nya dari kayu salib, Yesus berbalik dan menghardik dia dengan kata-kata paling keras yang pernah dikatakan-Nya kepada manusia. Kata-Nya, "Enyahlah Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku (Mat.16:23). Saran yang diberikan Petrus kepada Yesus itu mengandung rasa sayang manusiawi yang sangat besar. Tapi Yesus menghardiknya, karena apa yang disarankan Petrus itu bertentangan dengan kehendak Bapa.

Bapa selalu menempati posisi utama di dalam afeksi Yesus. Dia mengharapkan kita untuk memiliki sikap yang sama terhadap Bapa. Setelah kebangkitan-Nya, Yesus bertanya pada Petrus apakah dia mengasihi-Nya lebih dari apa pun di bumi ini, sebelum menjadikannya sebagai gembala di dalam gereja (Yoh.21:15-17). Hanya mereka yang mengasihi Tuhan dengan segenap hatilah yang akan diberi tanggung jawab di dalam gereja-Nya.

Pemimpin gereja di Efesus hampir ditolak karena dia telah kehilangan kasih mula-mulanya pada Tuhan (Why.2:1-5).

Jika kita bisa berkata, seperti pemazmur, "Siapa gerangan ada padaku di sorga, selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi," maka kita telah memenuhi syarat pertama untuk menjadi murid ( Mzm 73:25).

Kasih yang diharapkan Yesus dari kita bukan yang bersifat emosional, sentimental atau afeksi manusia yang mengekspresikan perasaannya dengan menyanyikan lagu-lagu haru untuk-Nya. Kalau kita mengasihi-Nya, kita akan menaati-Nya (Yoh.14:21).

Syarat pemuridan yang kedua ialah kita harus membenci ke-aku-an kita. Yesus berkata, "Jika seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci hidupnya sendiri, dia tidak dapat menjadi murid-Ku ( Luk.14:26) .

Dia menjabarkannya lagi dengan mengatakan, "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku" ( Luk.14:27) . Ini adalah salah satu ajaran Yesus yang paling tidak dipahami.

Yesus mengatakan bahwa seorang murid harus "menyangkal diri dan memikul salibnya setiap hari (Luk.9:23). Lebih penting dari membaca Alkitab setiap hari, berdoa setiap hari, kita harus menyangkal diri dan memikul salib kita setiap hari. Menyangkal diri itu sama artinya dengan membenci hidup kita sendiri - hidup yang kita warisi dari Adam. Memikul salib berarti mematikan ke-aku-an itu. Kita harus membenci hidup itu terlebih dulu, sebelum kita dapat mematikannya.

Ke-aku-an kita adalah musuh terbesar kehidupan Kristus. Alkitab menyebutnya sebagai 'kedagingan'. Kedagingan adalah gudang dari segala macam nafsu jahat di dalam kita yang selalu mendorong kita melakukan kehendak sendiri - untuk mencari keuntungan kita sendiri, kehormatan kita sendiri, kesenangan kita sendiri, cara kita sendiri, dll.

Kalau kita jujur, kita harus mengakui bahwa perbuatan kita yang paling baik sekalipun masih bercampur dengan motivasi jahat yang muncul dari nafsu kita yang jahat. Selama kita tidak membenci 'kedagingan' ini, kita tidak akan pernah bisa mengikuti Tuhan.

Inilah kenapa Yesus sangat sering berbicara soal membenci atau (kehilangan) hidup kita.

Faktanya, kalimat itu diulangi sebanyak 6 kali dalam kitab-kitab injil Mat.10:39;16:25;Mrk.8:35;Luk.9:24;14:26; Yoh.12:25). Ini adalah perkataan Tuhan kita yang paling sering diulangi dalam kitab-kitab injil. Tapi ini juga yang paling jarang dikhotbahkan dan paling sedikit dipahami!

Membenci hidup kita berarti berhenti mencari hak, reputasi, ambisi dan ketertarikan diri kita sendiri, berhenti mengikuti jalan kita sendiri, dll. Kita bisa menjadi murid Yesus, hanya jika kita bersedia mengikuti jalan ini.

Syarat pemuridan yang ketiga ialah kita harus menyerahkan semua milik kita.

Yesus berkata, "Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku" ( Luk.14:33) .

Kepemilikan kita adalah segala hal yang kita miliki. Menyerahkan semua milik kita artinya kita tidak lagi menganggap apa pun sebagai milik kita.

Kita bisa melihat ilustrasi terkait hal ini di dalam hidup Abraham. Ishak adalah anak kandungnya sendiri - miliknya. Suatu hari Tuhan meminta Abraham untuk mempersembahkan Ishak sebagai kurban. Dan Abraham meletakkan Ishak di atas altar dan sudah siap untuk menyembelihnya. Tapi Tuhan segera mencegahnya dan memberitahu Abraham bahwa kurban itu tidak perlu, karena dia telah menyediakan kerelaannya untuk taat (Kej.22). Setelah itu, Abraham menyadari bahwa meskipun ia memiliki Ishak di rumahnya, dia tidak lagi memiliki Ishak sebagai putranya sendiri. Kini Ishak menjadi milik Tuhan.

Itulah artinya menyerahkan semua yang kita miliki. Semua yang kita punya harus diletakkan di atas altar dan diserahkan kepada Tuhan.

Tuhan mungkin memperbolehkan kita untuk menggunakan hal-hal itu. Tapi kita tidak boleh lagi menganggapnya sebagai milik kita sendiri. Meskipun kita hidup di rumah sendiri, kita harus menganggapnya sebagai rumah Tuhan; dan Dia telah membiarkan kita tinggal di situ tanpa uang sewa! Inilah pemuridan sejati.

Apakah kita sudah melakukannya terhadap semua milik kita? Kepemilikan kita termasuk akun bank, properti, pekerjaan, kemampuan, karunia dan talenta, istri, anak-anak dan segala sesuatu yang kita hargai di bumi ini. Kita harus meletakkan semuanya di atas altar jika kita mau menjadi murid yang sejati.

Hanya setelah itulah kita bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita. Inilah 'hati yang suci' yang dibicarakan Yesus di Mat.5:8. Tidak cukup untuk memiliki nurani yang bersih saja. Nurani yang bersih hanya berarti kita telah menyerahkan semua dosa yang kita ketahui. Hati yang suci berarti kita telah menyerahkan semuanya!

Jadi, kita bisa melihat bahwa pemuridan yang sejati melibatkan perubahan sikap yang radikal terhadap: (a) sanak saudara dan orang-orang dikasihi; (b) ke-aku-an; kepemilikan. Selama kita tidak mengurus hal ini dengan tepat dan jujur, akan mustahil bagi kita untuk memenuhi tujuan Tuhan bagi hidup kita. Selama para pengkhotbah tidak memberitakan pesan pemuridan ini tanpa 'bumbu-bumbu' tambahan, akan mustahil bagi mereka untuk membangun Tubuh Kristus.

Jalan Pemuridan

Mat.28:20 lanjut mengatakan bahwa murid Kristus harus diajarkan untuk menaati dan melakukan setiap perintah yang diberikan Tuhan kita. Inilah jalan pemuridan. Kita hanya perlu membaca Mat.5,6,7 untuk melihat beberapa perintah yang diberikan Yesus - yang bahkan tidak ditaati oleh banyak orang percaya.

Seorang murid adalah seorang pembelajar dan pengikut.

Yang diperlukan oleh bangsa ini adalah orang-orang yang sudah dicengkram oleh panggilan untuk memberitakan seluruh perintah Tuhan, orang-orang yang menaati semua perintah Yesus, dan yang bersemangat untuk mengajarkannya kepada orang lain - dan dengan demikian membangun tubuh Kristus.

Yesus berkata bahwa semua murid-Nya akan dikenali dengan satu tanda - kasih mereka terhadap satu sama lain (Yoh.13:35).

Perhatikan! Murid-murid Kristus dikenali, bukan dari kualitas khotbah atau musik mereka, bukan karena mereka 'berbicara dalam bahasa roh' atau karena mereka membawa Alkitab ke gereja, juga bukan dari kebisingan yang mereka buat dalam ibadah!! Mereka dikenali dari kasih yang membara terhadap satu sama lain. Acara penginjilan yang membawa jiwa-jiwa kepada Kristus harus berlanjut juga pada pembangunan gereja di daerah itu, wadah bagi murid-murid untuk saling mengasihi satu sama lain. Tapi sedih sekali bahwa di tempat-tempat yang sudah sering dilakukan pertemuan penginjilan tahun demi tahun, sulit untuk menemukan satu gereja saja yang anggotanya tidak berkonflik atau saling memfitnah, tapi saling mengasihi satu sama lain.

Kita bisa paham jika orang yang baru bertobat tidak bisa langsung memiliki hidup yang berkemenangan. Tapi apa yang harus kita katakan ketika pertentangan dan ketidakdewasaan itu terjadi di antara para penatua dan pemimpin Kristen di gereja-gereja yang ada di bangsa ini?

Inilah bukti yang paling jelas bahwa unsur Amanat Agung yang kedua dan yang terpenting itu (disebutkan di Mat.28:19 ,20 ) - pemuridan dan ketaatan total pada semua perintah Yesus - telah benar-benar diabaikan.

Unsur Amanat Agung yang biasanya ditekankan di mana-mana adalah yang pertama (Mrk.16:15). Dalam unsur itu, penekanannya ialah pada penginjilan, pesan itu dikonfirmasi dengan tanda-tanda mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan.

Namun di dalam Mat.28:19,20, penekanannya adalah pada pemuridan - ketika kehidupan seorang murid dinyatakan dengan ketaatan total pada perintah-perintah Yesus. Kebanyakan orang Kristen hanya menggeluti unsur Amanat Agung yang pertama, tapi sangat, sangat sedikit yang bergelut pada unsur yang kedua. Padahal unsur yang pertama tidak akan lengkap tanpa unsur yang kedua, dan tidak berguna, sama seperti setengah tubuh manusia. Tapi berapa banyak orang yang memahami ini?

Di dalam pelayanan Yesus, kita membaca bahwa orang banyak mengikuti Dia, karena pelayanan penginjilan dan kesembuhan yang dilakukan-Nya. Dia selalu berbalik dan mengajarkan mereka tentang pemuridan (Lihat Luk.14:25 ,26 ). Apakah penginjil masa kini akan melakukan hal yang sama - baik ketika mereka sendirian, atau pun dalam kerjasama dengan rasul, nabi, guru dan gembala yang dapat melengkapi pekerjaan yang telah dimulai sang penginjil.

Mengapa para pendeta ragu-ragu memberitakan pesan pemuridan? Karena itu akan mengurangi jumlah jemaat mereka. Tapi mereka tidak sadar bahwa kualitas gereja mereka akan jauh lebih baik!!

Ketika Yesus berkhotbah tentang pemuridan kepada orang banyak, jumlah mereka segera berkurang jadi 11 murid saja (Bandingkan Yoh.6:2 dengan 6:70). Yang lainnya merasa bahwa pesan itu terlalu keras dan lalu meninggalkan Yesus (lihat Yoh.6:60 ,66 ). Tapi pada akhirnya Tuhan memenuhi tujuan-Nya lewat 11 murid yang tetap tinggal bersama-Nya.

Sebagai tubuh Kristus di bumi pada saat ini, kita harus menanggung pelayanan yang sama dengan 11 rasul yang diutus di abad pertama. Hanya dengan cara itulah tubuh Kristus akan terbangun.

Jalan menuju hidup itu sempit dan sedikit yang menemukannya.

Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar.